JUMAWA BERAKHIR KECEWA
"Pasti lolos SNMPTN sih, udah tenang aja," sebuah kalimat sederhana yang secara angkuh kututurkan dalam hati. Kalimat yang seharusnya dilarang diucapkan, bahkan untuk dipikirkan sekalipun.
Pada tahun 2021 adalah tahun dimana aku akan segera berubah status, dari pelajar SMA menjadi mahasiswa baru. Sebelumnya, aku termasuk salah satu dari 40% siswa di sekolahku yang dinyatakan eligible atau berhak mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), seleksi menggunakan nilai rapot.
Aku berada di urutan ke-39 dari 114 siswa (MIPA) yang eligible tersebut. Berada di urutan segitu cukup membuatku yakin bahwa aku akan lolos SNMPTN. Lolos SNMPTN adalah kebanggan tersendiri bagi siswa SMA kelas 12, karena kami tak perlu bersusah payah belajar lagi untuk mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Bayangkan saja, engkau harus mempelajari enam mata pelajaran untuk dapat lulus ujian di satu hari yang sama. Belum lagi bagi kami siswa MIPA, berbagai macam rumus dan hitungan harus kami kuasai dalam waktu singkat.
Karena keyakinanku lolos SNMPTN yang cukup besar itu, aku pun mulai melakukan analisis tersendiri. Aku manfaatkan inforasi yang diberikan guru BK, informasi tersebut berisi data nilai rapot angkatan sebelumnya yang lolos SNMPTN di jurusan yang mereka inginkan. Segera aku tandai mereka yang memilih jurusan yang sesuai dengan yang aku incar. Aku mengincar SAPPK-ITB dan Teknik Geologi-UNPAD. Namun karena nilai rapot ku tidak mencukupi untuk mengambil ITB, kuputuskan untuk berdiskusi dengan ibuku mengenai jurusan lainnya yang harus kupilih. Akhirnya kami sepakat untuk menetapkan Psikologi-UNPAD untuk menggantikan ITB.
Setelah memilih Psikologi dan Teknik Geologi UNPAD, sebenarnya aku masih agak ragu. Karena nilai rapotku masih belum juga memenuhi untuk mengambil jurusan psikologi. Aku pun berdiskusi dengan guru BK ku. Beliau mengatakan bahwa ada 8 anak yang berminat mengambil jurusan Psikologi UNPAD, sementara sekolah hanya 'mengizinkan' 4 anak untuk memilih jurusan yang sama. Alhamdulillah, aku termasuk dalam 4 orang yang diperbolehkan, tapi bisa dibilang aku pun termasuk orang yang 'nekat'.
Jurusan Psikologi UNPAD di tahun sebelumnya menerima siswa dengan nilai rapot 87 dengan koma >4. Saat itu rata-rata nilai rapotku hanya 87,23, sudah jelas tidak mencukupi untuk mengambil psikologi. Tapi sebenarnya jurusan yang paling aku inginkan adalah Teknik Geologi-UNPAD, jadi tak masalah bagiku untuk tidak lolos pilihan satu. Aku memutuskan untuk tetap nekat sekaligus pasrah, karena paksaan ibuku untuk memilih psikologi. Oke, aku anggap itu merupakan sebuah kompromi, sebab ibuku sebenarnya tak menyetujui aku memilih teknik geologi.
Aku pun banyak berdoa agar aku bisa lulus SNMPTN. Aku benar-benar yakin bahwa setidaknya aku akan lolos di pilihan kedua SNMPTN. Akibat ke-pede-anku yang tidak patut itu, aku pun mengabaikan kemungkinan kalau aku bisa saja gagal SNMPTN dan harus mengikuti SBMPTN. Aku sama sekali belum mempersiapkan apapun untuk SBMPTN.
Hingga akhirnya, tibalah saat yang aku tunggu-tunggu, hari pengumuman hasil SNMPTN. Hari Senin, 22 Maret 2021. Bisa kalian tebak apa yang terjadi. Kesombonganku membawa petaka. Saat ku masukan data diri ke website pengumuman, apa yang muncul di layar bukanlah apa yang minta selama ini. Terpampang warna merah menyala dengan tulisan "ANDA DINYATAKAN TIDAK LULUS SNMPTN 2021". Sedih, marah, kecewa, semuanya bercampur aduk. Namun itu sebenarnya belum seberapa. Beberapa menit sebelum kubuka hasil pengumumannya, ibuku memberi tahu bahwa kami berdua terkonfirmasi positif COVID-19 setelah sebelumnya kami mengikuti swab test bersama 2 orang anggota kami yang lainnya, kami diharuskan menjalani isolasi mandiri di rumah. Saat tahu kabar itu, aku hanya bisa tercenggang, namun kukira semuanya akan baik-baik saja karena aku akan mendengar kabar baik setelahnya. Tapi ternyata tidak, hari itu adalah mimpi buruk yang nyata bagiku.
Setelah mendapat dua kabar tidak menyenangkan berturut-turut di hari yang sama, aku masih bisa menahan kesedihan. Aku masih bisa bersikap seperti biasanya. Namun, malam harinya semua emosiku pecah dan aku nangis tak karuan. Aku meluapkan semuanya kepada ibuku dan mengatakan bahwa aku ingin mati. Aku berkata demikian karena sebenarnya aku malu dan takut pada kenyataan aku belum mempersiapkan apapun untuk SBMPTN. Ibuku yang mendengar perkataanku itu hanya menangis tak mampu berbuat apa-apa.
Meski mengalami hari-hari sulit, aku memutuskan untuk tetap tegar sembari menghadapi ujian akhir semester untuk kelas 12 yang sudah di depan mata. Selagi belajar untuk UAS, aku juga belajar untuk SBMPTN. Sekali lagi aku harus bersyukur karena kondisiku yang positif COVID-19 itu sama sekali tidak menghalangiku untuk melakukan kegiatanku sehari-hari. Aku berusaha bangkit dengan menyibukkan diriku menjawab soal-soal yang kelak akan aku selesaikan di kedua ujian tersebut.
Selesai dengan minggu-minggu UAS, aku langsung tancap gas mengikuti berbagai tryout gratis yang disediakan berbagai layanan belajar daring. Nilai-nilai tryoutku tidak begitu memuaskan, dari sekitar 6 tryout yang aku ikuti aku hanya sekali mendapatkan skor 600 ketas, 2 kali skor 500-an, dan sisanya dibawah 500. Tak mengapa, karena memang niatku untuk mengikuti TO hanya untuk terbiasa dengan sistem pengerjaannya nanti. Aku pun memantapkan pengetahuanku dengan menjawab beragam soal di buku-buku kumpulan soal SBMPTN.
Karena kesibukkanku itu, aku sampai lupa untuk makan. Ibuku yang khawatir akan kondisiku pun marah karena aku tak kunjung makan, hingga akhirnya perdebatan pun tak terelakkan. Aku tahu aku salah, tapi egoku tidak mengizinkanku untuk mengakuinya, lagipula semua ini tidak akan terjadi jika ibuku tidak memaksaku untuk memilih jurusan yang sudah jelas nilaiku tidak mencukupinya.
Karena hubunganku dengan ibu yang masih belum baik—atau setidaknya aku yang berpikir demikian, aku pun memutuskan untuk berdiskusi dengan ayah mengenai jurusan mana yang harus aku ambil untuk SBMPTN nanti. Sialnya, bukannya membantuku menentukan pilihan yang kira-kira akan membuatku 'aman' di SBMPTN nanti, ayahku malah bertindak layaknya ibuku kemarin. Memaksaku untuk memilih SAPPK-ITB dan Teknik Geologi-UNPAD. Itu mungkin pilihan yang bagus bagi beberapa orang, namun tidak bagiku. Pilihan itu lagi-lagi bisa dibilang nekat, karena passing grade keduanya yang tinggi, yaitu >600. Berkaca dari nilai hasil TO-ku, bisa dibilang hampir mustahil untuk mendapatkan skor sebegitu tinggi dalam waktu kurang dari sebulan. Ya, ujian SBMPTN gelombang pertama akan dilaksanakan mulai dari 12 April 2021.
Jujur, berdebat dengan ayahku lebih membuatku kesal daripada dengan ibuku, itu karena aku harus menghubunginya melalui WhatsApp dan bukannya bertemu langsung. Sekali lagi, aku memutuskan mengalah dan hanya bisa pasrah. Kupilih dua jurusan tersebut sebagai targetku berikutnya. Berbeda dengan SNMPTN kemarin, aku kerap kali mengalami overthinking yang membuatku tidak bisa tidur meski sudah sholat tahajjud sekalipun. Aku sangat takut akan kemungkinan aku dinyatakan gagal untuk kedua kalinya.
Hari Kamis, 15 April 2021 akhirnya tiba. Hari dimana jadwalku mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) sebagai syarat SBMPTN. Sebelumnya aku telah dinyatakan sembuh seminggu sebelum hari-H, sehingga aku bisa mengikuti ujian ini. Aku memilih ISBI sebagai pusat ujianku dan aku ditempatkan di UNISBA sebagai lokasi ujiannya. Aku mendapatkan sesi I, yang itu artinya selesai sahur aku harus segera bersiap-siap. Kebetulan saat itu UTBK dilaksanakan di Bulan Ramadhan. Berbagai macam doa telah kupanjatkan, sholat-sholat pun aku usahakan di awal waktu, dan juga beragam jenis soal aku pelajari. Miris memang, aku menggiatkan ibadahku hanya di saat aku butuh. Namun aku bertekad bahwa aku harus berubah, aku harus lebih baik dari sebelumnya.
Selesai ujian, aku berkenalan dengan seseorang, namanya Widya. Kami berdua ditempatkan di ruang yang sama saat ujian. Kami pun saling bertukar nomor WA dan saling mendoakan agar kami lulus di jurusan yang kami pilih. Aku pulang ke rumah dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya aku sudah bisa maksimal menjalankan ibadah puasaku sekarang.
Pengumuman hasil UTBK masih lama, bulan Juni 2021 dan kini baru bulan Mei. Kecemasanku kembali muncul, akupun mencari-cari jalur seleksi mandiri PTN dan PTS. Aku kembali berdiskusi dengan kedua orang tuaku mengenai seleksi mandiri mana yang harus kucoba sebagai antisipasi aku tidak lulus SBMPTN. Ayahku pun meminta aku untuk mengikuti Undangan Seleksi Mandiri (USM) Telkom University, mekanismenya sama seperti SNMPTN kemarin. Awalnya aku menolak karena uang partisipasi pembangunan (sumbangan) yang harus diberikan jumlahnya puluhan juta. Namun ayahku mencoba meyakinkanku untuk mencobanya dahulu, "masalah uang lihat nanti," begitu katanya. Aku pun mendaftar USM tersebut dan aku dinyatakan lolos.
Aku tentu merasa senang. Aku pun mendesak ayahku untuk segera membayar uang sumbangan dan UKT-nya, yang jika ditotal semuanya berjumlah kurang lebih 60 juta rupiah. Aku merengek karena ayahku yang sudah memaksaku untuk mencobanya dan kini aku berbalik memintanya untuk menyelesaikan tagihan-tagihan tersebut. Akan tetapi, sampai batas akhir daftar ulang, ayahku belum sanggup membayarnya, akhirnya aku mencoba mengikhlaskannya.
Aku belum menyerah. Kembali kucari jalur seleksi mandiri perguruan tinggi lainnya. Aku tertarik untuk mencoba Jalur Prestasi Akademik (JPA) Telkom University dan Beasiswa Ikatan Dinas Telkom University. Ayahku menyetujuinya. Untuk JPA sendiri sebenarnya sama saja dengan USM kemarin, yang membedakannya adalah jumlah tagihan yang harus dibayar, yakni 40 juta rupiah. Meski masih berkisar puluhan juta rupiah, alasan ayahku menyetujuinya karena ia menganggap tagihannya lumayan lebih murah dari sebelumnya. Jujur, aku sendiri tidak mengerti bagaimana jalan pikirannya, namun bisa dibilang salahku juga tidak mencoba JPA dari awal. Jalur beasiswa ikatan dinas sendiri terdiri dari 3 tahap seleksi, yang pertama seleksi berkas, kedua seleksi ujian, dan ketiga wawancara (?). Aku pun kembali mendaftar untuk mengikuti seleksi kedua jalur tersebut.
Mendekati beberapa hari menjelang pengumuman hasil SBMPTN, aku melihat bahwa ITB membuka seleksi mandiri hanya berdasarkan nilai rapot dan skor UTBK nanti. Aku yang bisa dibilang agak trauma dengan seleksi mandiri ujian sangat tertarik dengan persyaratan SM ITB tersebut. Akhirnya aku kembali berbicara dengan ayahku mengenai niatku itu. Ia sangat setuju dan aku segera menyelesaikan proses pendaftaran.
Senin, 14 Juni 2021 menjadi hari yang aku tunggu-tunggu berikutnya. Bukan hanya hari dimana pengumuman SBMPTN akan dikeluarkan, melainkan juga hasil JPA Telkom University. Dan betapa kagetnya aku, disaat aku sudah sangat pesimis dengan hasil SBMPTN, Allah justru memberikan kejutan yang sangat luar biasa. Aku dinyatakan lulus di pilihan kedua, yakni Teknik Geologi - Universitas Padjajaran. Kaget, terharu dan tak percaya. Langsung saja aku sujud dan memberitahukan ibuku. Tak lupa aku berikan screenshot pengumuman tersebut ke ayahku. Usahaku untuk belajar dan berdoa dalam waktu singkat itu ternyata didengar Allah. Dua jam kemudian aku kembali mendapat kabar bahagia bahwa aku dinyatakan lulus pula di JPA Telkom University. Benar-benar nikmat yang berbanding terbalik bila dibandingkan pada 22 Maret kemarin.
Saat tahu hasilnya, ayahku langsung meminta untuk melepaskan JPA TU. Aku diminta untuk fokus daftar ulang ke UNPAD dan menunggu sisa hasil seleksi yang aku ikuti kemarin. Dan hasil seleksi-seleksi berikutnya kembali membawa kabar baik. Aku dinyatakan lulus seleksi tahap berkas beasiswa ikatan dinas TU. Meski aku sudah mengatakan kepada ayahku bahwa aku tidak akan mengambil beasiswa tersebut, ia masih saja memintaku untuk mengikuti seleksi tahap kedua, yakni ujian daring. Aku pun mengikuti keinginannya karena aku merasa bersalah telah menghabiskan begitu banyak uang di pendaftaran seleksi mandiri yang seharusnya tak perlu. Lagi-lagi aku dinyatakan lolos seleksi tahap ujian tersebut. Meski tinggal tersisa satu tahapan lagi, kali ini aku memaksa ayahku untuk membiarkanku tidak mengikutinya. Aku tidak akan mengambilnya jadi untuk apa pula aku melanjutkannya?

Comments
Post a Comment